Kisah Cinta Majai Malang Butung dan Dayang Jelingan Hidup di Panggung Seni Tradisi Rejang Lebong
MEDIA CENTER REJANG LEBONG – Kisah cinta Majai Malang Butung dan Dayang Jelingan kembali dihidupkan di tengah masyarakat melalui pertunjukan seni tradisi yang digelar Sanggar Semulen Perjako Curup.
Pertunjukan bertajuk “Kisah Cinta Majai Malang Butung dan Dayang Jelingan” tersebut berlangsung di Gedung Serba Guna, Jalan Setia Negara, Curup, Senin (14/9/2026) pukul 10.00 WIB. Pentas dibuka Ketua DPRD Rejang Lebong, Juliansyah Yayan ditandai dengan pemukulan dol.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Iskandar Mulia Siregar, S.Si., M.A.P., Kepala Dinas Kominfo Rejang Lebong Dra. Upik Zumratul Aini, M.Si., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Zakaria Effendi, M.Pd., Asisten II Setdakab Rejang Lebong Titin Verayensi, SKM., MKM., Wakil Ketua I DPRD Pera Heriyani, SE, Kepala DP3APPKB Gusti Maria, SH., MH., serta sejumlah pejabat eselon III di lingkungan Pemkab Rejang Lebong.
Ketua Sanggar Semulen Perjako Curup, Daharis Nasution, SH., MM., mengatakan cerita yang dipentaskan merupakan legenda rakyat yang diangkat dari buku Adat Kutei karya Sujirman, M.Pd.
Cerita tersebut mengisahkan pasangan suami istri muda, Majai Malang Butung dan Dayang Jelingan, yang berupaya mendapatkan keturunan. Dalam perjalanan cerita, keduanya meminta bantuan seorang dukun dan menjalani prosesi tradisi menganyuk hingga akhirnya dikaruniai buah hati.
“Cerita ini sarat dengan pesan moral, terutama tentang ketaatan dan keteguhan hati pasangan suami istri dalam berusaha mendapatkan keturunan,” ujar Daharis.
Tak hanya menghadirkan cerita rakyat, pertunjukan juga menampilkan sejumlah kesenian tradisi dan kreasi. Di antaranya Tari Besae dan Tari Min Cupik Mai Bioa, serta tari nusantara yang dibawakan murid tunarungu SLB-IT Curup.
Keterbatasan pendengaran tidak menghalangi para siswa SLB-IT Curup tampil percaya diri. Mereka mampu mengikuti gerakan tari dengan baik dan menjadi salah satu penampilan yang menarik perhatian penonton.
Panggung kemudian dimeriahkan kolaborasi musik dol dan kelintang yang mengiringi lagu “Bujang Keriko”. Rangkaian pertunjukan ditutup dengan prosesi pancung tebu yang dilakukan anggota DPRD Rejang Lebong, Hidayatullah, kemudian dilanjutkan fashion show dengan menampilkan beragam busana kreatif.
Daharis menjelaskan, kegiatan tersebut terlaksana atas bantuan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Bengkulu. Menurutnya, dukungan tersebut penting untuk menjaga agar seni tradisi Rejang Lebong tetap hidup dan dikenal generasi muda.
“Kita berharap seni budaya Rejang Lebong dapat lestari dan dicintai kaum muda. Saat ini seni tradisi nyaris terpinggirkan. Karena itu, kita berupaya menggali dan mengembangkan seni budaya agar tetap lestari,” katanya.
Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Bengkulu,
Iskandar Mulia Siregar, mengatakan pihaknya setiap tahun menyiapkan anggaran untuk mendukung kegiatan pelestarian kebudayaan.
“Balai Pelestarian Kebudayaan berusaha melindungi kebudayaan lokal Bengkulu. Untuk kegiatan kelompok kita siapkan anggaran Rp40 juta dan Rp20 juta untuk kegiatan perseorangan,” jelas Iskandar.
Ia menambahkan, secara nasional Balai Pelestarian Kebudayaan telah hadir di 33 provinsi. Dukungan pelestarian budaya juga diarahkan pada peninggalan sejarah dan budaya yang memiliki nilai penting bagi daerah.
Iskandar secara khusus mendorong pelestarian batu menhir megalitikum di Desa Lawang Agung, Kecamatan Padang Ulak Tanding. Ia berharap batu berukir tersebut dapat dikembangkan menjadi salah satu ikon budaya Rejang Lebong sekaligus daya tarik wisata.
Ketua DPRD Rejang Lebong, Juliansyah Yayan, memberikan apresiasi terhadap pertunjukan yang digagas Sanggar Semulen Perjako Curup. Menurutnya, pelestarian budaya daerah perlu terus digalakkan agar nilai-nilai tradisi tidak hilang di tengah perkembangan zaman.
“Pelestarian budaya Rejang Lebong perlu digalakkan. Nilai-nilai tradisi lokal jangan sampai punah, tetapi terus lestari dan dicintai seluruh lapisan masyarakat. Dengan begitu, seni tradisi tetap membumi,” kata Juliansyah Yayan.(mcrl/Rahman)













